Minggu, 10 April 2011

-Review Mangaku-

Manga baru berjudul Enma Gavel ini di edisi pertamanya sudah membuatku sangat tertarik. Menceritakan tentang Enma Daioh, penguasa neraka yang menyamar menjadi murid di sekolah, dan mulai membasmi setan-setan yang sebenarnya berasal dari emosi negatif manusia.


Seandainya hidup semudah ini, mungkin tidak aka nada orang yang akan putus asa dan merasa tertekan dalam hidupnya, karena segala sesuatu bisa dilakukan sesuai keinginan.
Inilah yang dimaksud dengan setan dalam manga ini.

Emosimu akan menjadi setan, sejauh kau menyembunyikan perasaanmu, dan terus memakai topeng keceriaan dalam hidupmu, padahal itu tidak sesuai dengan perasaanmu. You just smile on the outside, but feel hurt beneath your heart.


Jika ingin membaca kelanjutannya, just clicked on www.bacamanga.web.id atau bisa juga melalui mangacode.com dijamin banyak manga seru yang bisa mengisi waktu senggangmu.

Rabu, 30 Maret 2011

My Hero - Pahlawanku

Pahlawan Lalu Lintas Bergaji Cepek
BERGAYA: Muhammad Nur dalam aksinya mengatur lalu lintas.























"Heroes are selfless peoples who perform extraordinary acts. The mark of heroes is not necessarily the result of their action, but what they are willing to do for other and for their chosen cause. Even if they fail, their determination lives on for others to follow. Their glory lies not in the achievement, but in the sacrifice." (Susilo Bambang Yudhoyono, Time, 10 Oktober 2005, hal 58).
“Pahlawan adalah orang-orang yang tidak egois yang melakukan tindakan luar biasa. Penghormatan terhadap pahlawan tidak harus selalu dilihat dari hasil perbuatannya, tetapi juga dari keinginannya untuk berbuat sesuatu terhadap orang lain dan berdasarkan tujuan yang dipilihnya. Meskipun gagal, kemauan kerasnya untuk berbuat sesuatu pada orang lain akan terus dikenang. Kejayaan seorang pahlawan tidak diukur dari hasil yang dicapai, melainkan kesediaannya untuk berkorban”. Begitulah definisi pahlawan yang ditulis oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam esainya yang berjudul The Making of A Hero.
z
BERDIRI di tengah jalan perempatan mengatur para pengendara sambil sesekali meniup peluitnya. Itulah pengatur jalan yang biasa dipanggil polisi cepek. Fungsinya hampir sama seperti polisi, namun tidak berseragam dan tidak mendapatkan bayaran. Bayaran hanya didapat dari pengguna jalan yang secara sukarela memberi. Itupun tak banyak, biasanya orang memberi uang logam lima ratusan, seribu rupiah, atau terkadang lima ribuan. Inilah alasan mengapa disebut polisi cepek.
Menjadi polisi cepek bukanlah suatu hal yang menguntungkan, mengingat pekerjaannya melelahkan, dan penghasilannya tak banyak. Namun, Muhammad Nur justru memilih pekerjaan tersebut dan selalu mengerjakannya dengan senang hati.
Ketika ditanya alasannya memilih pekerjaan ini sebagai penopang hidupnya, pria asli Medan ini hanya menjawab bahwa ia hanya ingin melakukan pekerjaan yang halal. Apalagi apabila pekerjaan yang dilakoninya positif dan berguna bagi orang lain.
Bila pernah melihat iklan salah satu minuman isotonik bermerk Mizone di televisi, tampak polisi mengatur lalu lintas sambil bergerak lincah dengan semangat seperti sedang mengikuti irama lagu. Ternyata, hal itu tidak hanya bisa dijumpai dalam iklan tersebut. Di perempatan, tepatnya di perempatan antara Kebonsari – Gayungsari – Gayung Kebonsari Surabaya Selatan, Muhammad Nur bekerja sambil bergerak seperti sedang nge-dance seperti dalam iklan Mizone. Bedanya, dalam iklan Mizone ada musiknya, sedangkan Nur membuat musiknya sendiri melalui irama siulan peluit yang ditiupnya.
Cara yang dilakukan Nur memang unik, dan ia melakukannya bukan tanpa tujuan. Ia ingin, selain membantu mengatur lalu lintas pengendara, ia juga bisa menghibur para pengguna jalan melalui aksinya. Tak jarang ia diwawancarai oleh berbagai media di Surabaya karena keunikannya dalam mengatur lalu lintas.
Bapak beranak dua ini tidak serta merta langsung bekerja sebagai polisi cepek. Perjalanan karirnya sebelum menjadi seorang polisi cepek cukup panjang. Karirnya diawali dengan menjadi seorang supervisor di salah satu foodcourt di Malaysia. Bersama istrinya, ia bertugas untuk mengawasi orang-orang Indonesia yang bekerja di foodcourt tersebut. Wah, siapa sangka Nur yang polisi cepek ini sudah pernah mengunjungi Malaysia. Bahkan sebelum tinggal di Malaysia, pria ini sempat singgah di Thailand dan Singapura. “Untuk mencari pengalaman, mumpung masih muda,”begitu katanya.
Pada tahun 1998, pasca lengsernya Suharto, seluruh penduduk Indonesia yang berada di luar negeri diminta untuk kembali ke Indonesia. Tak terkecuali Nur yang sebenarnya sudah merasa sejahtera tinggal di Malaysia. Tetapi sebagai warga negara yang baik, Nur dan istrinya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Di Indonesia, tempat yang dituju adalah tempat kelahirannya, yakni kota Medan Sumatra Utara.
Di luar dugaan, kondisi Medan saat itu hancur lebur. Karena merasa memiliki kewajiban menghidupi keluarganya, akhirnya Nur memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya di Blitar Jawa Timur. Merasa tak cocok dengan mata pencaharian di Blitar yang didominasi dengan pertanian, Nur memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Apapun pekerjaannya, asalkan halal akan dilakoni, tekadnya.
Di Surabaya, mencari pekerjaan juga tak mudah. Awalnya ia ikut temannya yang bekerja sebagai buruh bangunan. Namun karena dianggap pekerjaannya itu tidak manusiawi maka ia memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Dan akhirnya sampailah ia pada pekerjaannya sekarang ini sebagai polisi cepek alias pengatur lalu lintas. Untuk menambah penghasilannya yang pas-pasan, ia pun membuka usaha warung di daerah Darmo yang diberi nama Embah-Embah Gaul. “Biar keren gitu,”ungkapnya.
Bapak beranak dua ini memulai profesi ini pada tahun 2001. Saat itu kondisi jalanan tak sepadat sekarang dan jalanan masih berkerikil belum diaspal seperti sekarang. Mengatur lalu lintas merupakan hal yang melelahkan. Tentu saja Nur tidak melakukannya sendiri. Ia mencari beberapa orang untuk membantunya. Saat itu ia dibantu empat pemuda asal Jawa Tengah yang juga pontang-panting mencari pekerjaan. Tetapi mereka akhirnya pulang kampung karena terjadi gempa di Jogja dan sekitarnya pada 2006 silam.
Seperti kehilangan pasukannya, Nur berusaha untuk segera mencari anak buah baru untuk membantu pekerjaannya yang biasa dilakukan bergantian sesuai shift jaga. Kemudian ia pun mendapatkan tiga personil yang siap membantu menjaga stabilitas jalanan di lokasi jaga.
Sebagai koordinator wilayah alias korwil, pria yang jiwa mudanya masih berapi-api ini mengajarkan pada teman-temannya tata cara mengendalikan lalu lintas. Tak hanya itu, ia juga mengajarkan untuk tetap sabar dan ikhlas menerima berapapun nominal uang yang diberikan.
Banyak polisi-polisi cepek yang bekerja tanpa sepengetahuan polisi. Jadi mereka akan buru-buru lari begitu melihat polisi. Namun dalam wilayahnya, pekerjaan Nur merupakan bagian dari pekerjaan polisi. Ia tercatat dalam Sukarela Pengatur Lalu Lintas alias SUPELTAS. Tugasnya sebagai pengayom pengguna jalan di wilayah kerjanya.
Meski telah diakui oleh pihak kepolisian, namun tak jarang polisi cepek narsis ini  mendapatkan perlakuan kasar dari polisi. Seringkali polisi memerintah dengan kasar dan dengan kata-kata yang menyakitkan. “Jangan dilihat dari baju, dari pangkatnya. Alah, kita semua ini sama lah. Jangan karena pakai baju tentara, baju polisi gitu terus bertindak seenaknya. Ya saya hargai lah bajunya, tapi orangnya enggak”, ungkapnya karena merasa kecewa dengan perlakuan polisi.
Banyak hal yang bisa dipetik dari seseorang yang sering diremehkan orang karena pekerjaannya ini. Kisah hidupnya begitu menarik. Meskipun banyak orang yang menganggap rendah pekerjaannya, namun ia tetap dengan senang hati melakukannya sambil terus berpikir positif. Yang terpenting baginya adalah bagaimana ia bisa membuat hidupnya bermanfaat dan dibutuhkan orang lain. Ia mengabdikan hidupnya untuk menolong sesamanya dengan cara mengatur lalu lintas. Berapapun uang yang diberikan padanya diterima dengan ikhlas. Ia melakoni pekerjaan ini, dengan tanggung jawabnya untuk mengabdikan dirinya demi kepentingan orang lain, dan tentunya untuk menafkahi keluarganya. Bagaimanapun susahnya, sebagai kepala keluarga, ia tetap merasa bahwa sudah kewajibannya untuk menghidupi anak istrinya.
Menjadi pahlawan bukanlah hal yang mudah. Tetapi usaha untuk menjadi pahlawan juga perlu diapresiasi. Siapapun bisa menjadi pahlawan. Asalkan orang tersebut baik, berani, rela berkorban, pantang menyerah, lebih berbahagia memberi daripada menerima dan tentunya memperjuangkan hal yang positif.

Kamis, 17 Maret 2011

My Side Story – Part 1


Pria Zodiak

Suatu hari, aku mengikuti salah satu seminar internasional yang diadakan di salah satu hotel berbintang 5 di Surabaya. Dalam seminar itu, aku berkenalan dengan seorang pria yang juga merupakan peserta seminar. Kami saling bercerita satu sama lain mengenai berbagai hal. Kemudian kami pun saling bertukar nomor seluler agar kami masih tetap saling kontak di luar acara tersebut. Alhasil, kami tetap selalu berhubungan. Semakin lama hubungan kami semakin dekat, dan akupun mulai merasa nyaman bertukar pikiran dengannya. 

Selang sebulan kemudian, dia pun mengajakku untuk bertemu di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Saat itu kami gunakan untuk melepas rindu.Ketika bertemu, dia berkata bahwa dia mulai simpatik kepadaku. Terus terang aku bingung, simpatik itu perasaan yang bagaimana sih? Kami pun melanjutkan pembicaraan sampai dia bertanya apa zodiakku. Aku menjawab bahwa zodiakku adalah Sagitarius. Kemudian wajahnya tampak muram. Aku menanyakan padanya, mengapa wajahnya tampak begitu muram setelah mengetahui zodiakku. Dia pun menjawab bahwa dia sedih karena ternyata zodiak kami tidak cocok alias tidak berjodoh, yang entah apa zodiaknya aku lupa.

Jujur aku kaget mendengar penjelasannya. Ternyata hari gini masih ada ya orang segitu mikirinnya soal zodiak. Zodiak kan belum tentu bener. Apa setiap dia akan mencintai orang dia akan bertanya lebih dahulu apa zodiak orang tersebut. Benar-benar konyol. Terima kasih Tuhan karena aku tidak sampai menaruh rasa padanya. Bisa-bisa segala tindakannya akan digantungkan pada ramalan zodiak. (hil)

Selasa, 08 Maret 2011

Tak Lelah Menghadapi Pasien Gangguan Jiwa


Jangan Sebut Aku Gila!


















Jangan sebut mereka gila, sebut saja mereka orang yang mengalami gangguan jiwa!

BEBERAPA orang beranggapan bahwa rumah sakit jiwa itu menakutkan, bukan karena suasana horornya, namun karena banyak orang gila yang berkeliaran dan suka senyum-senyum sendiri. Terkadang ada juga yang tiba-tiba mengamuk dan menjerit histeris tanpa diketahui maksudnya.

Itu tadi hanya gambaran yang dijumpai dalam sinetron-sinetron dan film yang dibumbui dramatisasi sehingga cukup ampuh dalam membuat penonton paranoid dan berpikir negatif tentang rumah sakit jiwa. Hal itu pulalah yang terbayang ketika mengunjungi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya. Masih berada di parkiran saja rasanya sudah was-was, khawatir jika tiba-tiba ada orang gila yang berkeliaran dan melakukan tindakan aneh seperti di film-film. Namun...

Sepi. Tak ada orang berkeliaran apalagi marah-marah sendiri. Hati pun mulai bertanya-tanya, apakah ini benar-benar instalasi rawat inap di rumah sakit jiwa. Sungguh berbeda dengan yang digambarkan di film-film. Sepasang mata pun mulai sibuk mencari siapapun yang bisa ditanyai perihal seluk beluk penanganan pasien di rumah sakit ini.

Dari kejauhan tampak beberapa orang berseragam putih yang sedang bersantai di depan musholla. Mereka adalah para mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan dari Universitas Media Husada Madura yang sedang praktik merawat pasien-pasien gangguan jiwa. Dari perawat-perawat ini, salah satu diantaranya bernama Abdul Hamid. Pria yang sudah sebulan bertugas ini merupakan mahasiswa perawat yang ditempatkan di Ruang Wijaya Kusuma.

Terdapat beberapa ruang perawatan bagi pasien gangguan jiwa. Yang pertama adalah Ruang Wijaya Kusuma. Ruang ini berisi pasien yang baru saja masuk ke rumah sakit. Dalam ruang ini, kondisi pasien cenderung masih susah diatur, perilakunya bisa membahayakan dirinya sendiri atau orang di sekitarnya. Ruang Wijaya Kusuma bisa dibilang sebagai ruang perawatan intensif bagi pasien gangguan jiwa.

Setelah penyebab pasien mengalami gangguan jiwa diketahui, mulai tenang dan bisa diatur, maka pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan lain dimana pasien laki-laki dan perempuan akan dipisah. Pasien laki-laki ditempatkan di Ruang Kenari, dan wanita di Ruang Flamboyan. Untuk keluarga pasien yang bisa membayar lebih, pasien bisa ditempatkan di ruang VIP, yakni Ruang Anggrek.

Abdul Hamid menjelaskan bahwa penanganan pasien sakit jiwa memang ditempatkan dalam ruangan khusus dan tidak dibiarkan berkeliaran karena dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan orang lain. Orang sakit jiwa tidak mempunyai pertahanan diri dan tidak bisa berpikir seperti biasanya. Maka apabila seseorang memperlihatkan tanda-tanda penyakit ini pun harus segera dibawa ke rumah sakit jiwa. Semakin cepat penderita ditangani, maka akan semakin baik sehingga proses pengobatan tidak memakan waktu lama dan tidak menelan banyak biaya.

Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang berpikiran sempit yang masih menganggap bahwa penyakit ini merupakan sakit kiriman, santet atau penyakit karena hal-hal gaib lainnya. Di berita-berita pun masih sering dijumpai masyarakat yang memperlakukan penderita sakit jiwa dengan memasung dan mengurungnya di tempat terpencil yang jauh dari warga, karena dianggap berbahaya. Padahal, pemasungan hanya akan menyebabkan seseorang makin sakit, baik secara fisik maupun secara mental, jelas tindakan ini tidak dapat dibenarkan. Ada juga yang beralasan tidak mampu menanggung biaya perawatan di rumah sakit, padahal biaya di rumah sakit jiwa hampir sama dengan di rumah sakit pada umumnya. Dan karena di Indonesia semua rumah sakit jiwa adalah milik pemerintah, maka biaya perawatan di rumah sakit bisa mendapat bantuan melalui asuransi kesehatan atau kartu keterangan keluarga miskin.

Dalam menangani pasien sakit jiwa, keluarga mengambil peran yang sangat penting, selain peran dokter dan perawat yang juga dibutuhkan. Di tahap awal, keluarga harus bisa memahami dan berani menerima kenyataan bahwa salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa. Kemudian, penderita langsung dibawa ke rumah sakit jiwa agar segera memperoleh penanganan yang tepat. Dalam proses penanganannya, apakah penderita kelainan jiwa harus dirawat inap atau tidak, tergantung dari analisis dokter. Dokter akan melihat bagaimana cara pandang prilaku serta potensi bahaya. Jika pasien bisa menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang sekitarnya. Maka diambil keputusan, ia harus dirawat inap. Selanjutnya dilakukan proses rehabilitasi.

Keluarga juga harus bersedia menerima kehadirannya ketika penderita sudah sembuh. Masih banyak masyarakat yang menilai bahwa sakit jiwa tidak bisa disembuhkan, sehingga penderita dikucilkan dan didiskriminasi walaupun sebenarnya ia telah sembuh.

Dalam rehabilitasi, keluarga harus kerap mengunjungi pasien, apalagi bagi pasien yang masih berada di Ruang Wijaya Kusuma. Karena kondisi pasien masih parah, pihak keluarga harus selalu menemaninya. Paling tidak setiap hari ada waktu yang disisihkan untuk mengunjunginya. Sehingga ada yang bertanggung jawab dan dimintai keterangan perihal pasien.

Untuk merawat pasien ‘khusus’ ini, jelas Hamid, harus ada BHSP, Bina Hubungan Saling Percaya. Perawat harus bisa membuat pasien bisa mempercayainya. Memang tak mudah, memakan waktu yang tak sebentar, serta membutuhkan kesabaran ekstra, tetapi perawat harus bisa membuat pasien mempercayainya. Dengan begitu pasien bisa mengungkapkan permasalahannya sehingga pasien bisa dibantu dan diberikan penanganan yang tepat. Waktu yang diperlukan untuk menciptakan BHSP berbeda-beda antara pasien satu dengan yang lainnya. Ada yang hanya dua hari sudah bisa membina hubungan saling percaya, ada pula yang bebar-benar introvert yang sampai sebulan lebih baru bisa menerima peran perawat. Tergantung pada kondisi psikis pasien.

Pasien dengan gangguan jiwa tidak menyadari apa yang dilakukannya. Dia bisa saja bertindak dengan tindakan-tindakan yang bisa memancing emosi perawatnya. Tetapi, sekali lagi, perawat harus selalu mempunyai persediaan kantung-kantung kesabaran. Karena kalau perawatnya juga emosi, maka akan semakin memancing emosi pasien, walaupun terkadang paksaan dan gertakan juga diperlukan untuk membuat pasien takut dan tunduk, porsi gertakan sendiri juga masih disesuaikan dengan tingkat kegilaan pasiennya.

Selain perawatan psikis dan mental, perawatan juga perlu dibantu dengan obat-obatan, makanan bergizi dan ajakan untuk menciptakan pola hidup sehat. Pasien-pasien gangguan jiwa ini juga makan tiga kali sehari dan mandi dua kali sehari seperti halnya orang normal. Namun caranyalah yang sedikit berbeda. Untuk makan dan mandi, mereka masih perlu diarahkan. Banyak juga dari mereka yang tidak ingin mandi dan juga memberontak ketika diminta untuk makan dan minum obat.

Hamid menambahkan, pemicu utama gangguan kejiwaan adalah karena stres yang mendalam. Stres bisa terjadi karena kehilangan sesuatu yang ditangani, bisa orang yang disayangi, atau mungkin pekerjaan. Kurang perhatian, atau sebaliknya, terlalu dikekang, bisa menjadi penyebab utama stres yang nantinya berujung pada sakit jiwa. Broken home juga bisa menjadi pemicunya. Tak sedikit juga pasien  yang menjadi gila karena terlilit hutang.Selain itu, gangguan kejiwaan sering diberitakan di media-media beberapa waktu lalu, tatkala calon legislatif tidak memenangi perolehan suara. Sebagian orang yang gagal menduduki kursi legislatif tersebut mengalami guncangan jiwa dan kerap melakukan hal-hal konyol dan tidak masuk akal. Pihak rumah sakit sendiri sudah mempersiapkan diri untuk menerima pasien-pasien pasca pemilu legislatif.

Masih asyik-asyiknya Hamid menjelaskan, tiba-tiba muncul seseorang berpakaian seragam pasien berwarna coklat. Bukankah pasien tidak dibiarkan berkeliaran di luar kamar. “Tidak apa-apa, pasien yang satu ini sudah jinak,”jelas Hamid. Pasien ini sudah dinyatakan delapan puluh persen sembuh. Dalam taraf ini, pasien sudah bisa kooperatif dan sudah mengenal penyakitnya. Karena sesungguhnya orang gila tidak mengerti bahwa dirinya sedang gila.

“Namaku Arif Syaifudin,” ucap pasien itu memperkenalkan diri. Ia terlihat seperti orang normal, ia juga menunjukkan bahwa dirinya bisa solat. Bahkan ia juga bisa mempraktikkannya mulai dari niat, membaca Al-Fatihah, surat-surat pendek dan seterusnya sampai salam. Benar-benar seperti anak kecil yang masih polos dan tanpa malu-malu. Ia juga tidak takut untuk mengajak berkenalan dan bertukar nomor handphone (HP). “Disini nggak boleh bawa HP, tapi di rumah, aku punya HP. Biar nanti setelah aku keluar dari sini bisa telpon-telponan, “ lanjut Arif. Ia juga menunjukkan bahwa ia mempunyai banyak uang dan bisa menyebutkan siapa saja nama orang-orang yang memberikannya uang. Pasien ini pun juga siap berpose manakala diminta gambarnya.

Sesungguhnya, tingkat kecerdasan orang yang mengalami gangguan jiwa tidak berubah, yang berubah hanyalah arus dan cara berpikirnya. “Saya saja pernah diceramahi pasien sampai panjang lebar. Ada juga pasien yang mahir berbagai bahasa, bisa Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Bahasa Mandarin. Padahal yang normal saja belum tentu sepandai itu,” cerita Hamid. Pria yang tinggal di Bangkalan itu juga mengisahkan bahwa dia juga banyak belajar dan mendapat banyak ilmu dari pasien-pasien di rumah sakit jiwa ini. Bahkan, pasien yang hampir sembuh seperti Arif, bisa membantu perawat untuk menenangkan dan menimbulkan BHSP dengan pasien-pasien baru. Mungkin karena dia juga pernah berada dalam posisi itu sehingga bisa merasakan apa yang dirasakan pasien-pasien baru. Arif juga menjadi lebih peka dan mengerti cara mengatasi penyakitnya. Ketika jadwal minum obat tetapi obatnya belum datang, dia terus bertanya pada petugas, “Mana obatnya, mana obatnya, nggak boleh terlambat”. Ketika obatnya berbeda pun dia akan protes, obat yang biasanya warna biru, tetapi di beri obat warna lain, ia tak mau meminumnya. Ia sudah memahami kebiasaan sehari-harinya.

Ditanya perihal suka duka selama merawat pasien gangguan jiwa, Hamid mengungkapkan bahwa rasa dukanya lebih banyak daripada sukacitanya. Hamid pernah hampir dipukul dari belakang oleh salah satu pasien, ia juga pernah diludahi pasien ketika mencoba membujuknya untuk mandi. Namun, senyum menggaris di bibirnya ketika melihat kekonyolan dan tingkah polah lucu para pasien.

Sungguh besar dan mulia pengorbanan perawat pasien gangguan jiwa. Mereka bisa sebaik mungkin memahami dan menahan emosinya di depan pasiennya. Tak mudah untuk menjadi sabar dan telaten seperti halnya perawat-perawat tersebut yang harus tetap tersenyum meskipun terkadang tingkah laku pasien benar-benar keterlaluan.

Di akhir perbincangan, Hamid berpesan untuk selalu melakukan pekerjaan yang disukai, sehingga tidak terbelengu dan menjadi stres, karena stres yang dalam bisa mengakibatkan gangguan jiwa. “Jangan masuk kesini sebagai pasien ya!”pesannya sambil tertawa. (hmf)